Senin, 30 Januari 2012

Waduk Malahayu, Panorama Alam Banjarharjo Nan Eksotis

Waduk Malahayu terletak di Desa Malahayu, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah; ± 6 km dari Banjarharjo atau 17 km dari Tanjung. Luas kawasan ini sekitar 944 hektar dan dibangun pada tahun 1930 oleh Kolonial Belanda. Fungsi waduk ini disamping sebagai sarana irigasi lahan pertanian wilayah Kecamatan Banjarharjo, Kersana, Ketanggungan, Losari, Tanjung dan Bulalakamba juga sebagai pengontrol banjir serta dimanfaatkan untuk rekreasi. Di obyek wisata ini dapat ditemukan panorama alam pegunungan yang indah, dikelilingi hutan jati yang luas dan telah dijadikan bumi perkemahan dan wana wisata. Berbagai fasilitas tersedia di kompleks wisata ini antara lain kolam renang anak, mainan anak, becak air, perahu pesiar, perahu dayung, panggung terbuka serta disediakan tempat parkir yang cukup luas.

Pada setiap Idul Fitri diadakan Pekan Wisata dengan pentas orkes melayu / dangdut sebagai hiburan. Sementara Sedekah Waduk, dilaksanakan oleh masyarakat setempat setiap hari raya.

View Waduk Malahayu Nan Eksotis


Mitos yang hidup di masyarakat sekitar waduk ini adalah bahwa pasangan pengantin baru wajib membasuh muka dengan air waduk. Konon, pasangan yang melaksanakan hal itu akan langgeng mengarungi mahligai rumah tangga. Karena itu, hampir setiap ada pengantin baru, mereka selalu menyempatkan diri berkunjung ke lokasi tersebut. Yang unik, mereka kadang-kadang datang masih mengenakan pakaian pengantin, dengan diiringi puluhan bahkan ratusan pengiring. Tradisi ini dilaksanakan selain dipercaya mengandung berkah kelanggengan bagi pasangan itu, juga sebagai upaya tolak bala.

Mujair goreng adalah hidangan istimewa di lokasi wisata ini. Beberapa warung makan yang mendirikan bangunan di timur waduk menyediakan ikan mujair goreng dengan harga murah. Terkadang diadakan lomba balap perahu, lomba mancing, dan sebagainya. Penduduk setempat juga menggunakan perahu compreng untuk rekreasi air mengelilingi waduk.

Menara Pengawas Bendungan Malahayu

Dukuh Karacak
Dukuh Karacak adalah sebuah nama Dukuh atau kampung yang masuk pada Desa Malahayu. Dukuh Karacak awalnya berada di dekat Desa malahayu, dikarena pemerintahan belanda membangun Bendungan waduk malahayu sebagai irigasi masyarakat sekitar maka lima desa di bedol atau dipindahkan salah satunya kampung.

Sindang Mulya
Konon menurut tetua di Kampung Dukuh Kracak, kampung Karacak sebelum pindah bernama Sindang Mulya, hal itu dikarena pada zaman itu di dusun tersebut telah menjadi tempat transit atau tempat istirahat sementara para orang penting atau raja pada zamannya. di sebelah selatan kampung Sindang Mulya tersebut ada sebuah bukit yang bernama Bukit Karacak orang sekitar menyebutnya gunung Karacak, nah konon karena gunung atau bukit Karacak tersebut akhirnya Kampung Sindang Mulya Tersebut diberi nama Kampung Dukuh Karacak.

Masih Ada Silsilah Keluarga Ke Desa Cipajang
Karena tejadinya perpindahan penduduk ke beberapa tempat diantaranya Desa Cipajang, maka sampai saat ini masyarakat sekitar meyakini ada hubungan satu nenek moyang antara Desa Malahayu Dengan Desa Cipajang, hal itu dapat terlihat dari lanscap wilayah dan hubungan keluarga kedua desa tersebut sampai saat ini. Jika di perhatikan sampai saat ini memang kekeluargaan dan garis keturunan dari masing-masing desa tersebut masih dapat teridentifikasi dengan jelas, garis atau silsilah keluarga masih dapat di ceritakan oleh tetua (orang tua) di masing-masing desa tersebut. waduk malahayu itu dulunya dihuni oleh masyarakat desa Cipajang,Namun pada masa penjajahan kolonial belanda masyarakat desa Cipajang di pindahkan ke djaikar (nangka busung). Kemudian tanah yang ditinggalkan oleh masyarakat desa Cipajang di bangun menjadi waduk malahayu untuk pengairan ke seluruh kecamatan banjarharjo bahkan lebih.

Area Tepi Sebelah Utara Waduk Malahayu

Adat Dan Budaya
Adat dan budaya di desa yang tersebar di bawah kecamatan Banjarharjo memiliki karakteristik hampir sama, mulai dari adat pernikahan, sunatan, sedekah bumi dan kegiatan kemasyarakat lainnya nyaris sama.

Bahasa Yang Digunakan
Di wilayah Kecamatan Banjarharjo Selatan Khususnya masyarakat disini menggunakan bahasa Sunda Campuran Jawa, atau istilah masyarakat sekitar sunda kasar. hal ini karena wilayah Banjarharjo selatan bersebelahan dengan Wilayah Jawa Barat. percampuran budaya Jawa di dalam Suku Sunda memang sangat bisa dirasakan di daerah ini.

Hasil Bumi
Kondisi alam di daerah ini adalah pegunungan jadi mereka memiliki iklim bercocok taman padi Tadah Hujan yang dilakukan satu tahun sekali, sementara setelah itu biasanya dilanjutkan dengan menanam jagung, Bawang Merah, kacang Hijau dan Kedelai. Pegunungan di daerah ini ditumbungi dengan pohon Jati, sehingga pada saat kemarau udara panas lumayan terasa. Selain sebagai petani, ada sebagian penduduk yang memiliki pencaharian sebagai nelayan di danau Malahayu tersebut, tidak hanya untuk menangkap ikan, namun mereka juga menyediakan jasa perahu bagi para pengunjung yang ingin menikmati panorama danau Malahayu.

Jasa Sewa Perahu di Waduk Malahayu

Ideologi
Ideologi masyarakat Desa Malahayu dan sekitarnya masyoritas beragama Islam dan Berasaskan Pancasila, terbagi dalam beberapa golongan yakni Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Kegiatan-kegiatan keagaman di Mesjid, pesantren dan sekolah Islam terasa masih sangat kental dan ramai dilakukan oleh masyarakat disini.

Politik
Kegiatan Politik masyarakat Desa Malahayu dan sekitarnya mengikuti apa yang terjadi saat ini berlaku, kegiatan kepartaian dan pemahaman terhadap nilai Demokratis cukup baik dijalankan di daerah ini. Terlihat dari kegiatan partai yang cukup beragam namun tetap menjaga kemananan satu sama lainnya. Partai politik yang menonjol di daerah ini adalah Partai Demokrat, Golkar, PAN, PPNU, PBB dan PDIP

Anda tertarik untuk mengunjungi Obyek Wisata eksotis Waduk Malahayu? Segeralah datang & rekreasi ke Kec. Banjarharjo, kab. Brebes. Kami tunggu kunjungan anda.

Sabtu, 14 Januari 2012

Mengenal Lebih Dekat Budaya Dermayu

Mungkin ada yang menganggap kebudayaan adalah kesenian. Mungkin juga ada yang berpendapat kebudayaan Indramayu itu adalah tari topeng, tarling, sandiwara, dan jenis kesenian lainnya. Jadi, budaya Dermayu itu, ya kesenian yang ada di Indramayu. Benarkah demikian? Boleh dikatakan tidak terlalu salah, tetapi juga tidak terlalu benar. Lalu, apa sih budaya Dermayu?
Mengenai kebudayaan, ternyata ada 150 batasan/definisi. Coba simak definisi kebudayaan, seperti dikatakan Clyde Kluckhohn (1949): (1) Cara hidup masyarakat, (2) Adat sosial tingkah laku individu, (3) Cara berpikir, merasakan, dan mempercayai, (4) Tingkah laku abstark, (4) Tata cara hidup dalam keluarga, (5) Standar orientasi untuk mengatur masalah.

Kalau menurut Ki Hajar Dewantara, begini: “Budaya berasal dari kata budi, di artikan sebagai jiwa yang telah masak. Kebudayaan itu buah budi manusia. Pada pokoknya terdiri dari tiga kekuatan manusia, yaitu cipta, rasa, dan karsa, atau pikiran, perasaan, dan kemauan.”
Ada lagi pendapat Sutan Takdir Alisjahbana, bahwa kebudayaan adalah pola kejiwaan yang di dalamnya terkandung dorongan-dorongan hidup yang dasar, insting, perasaan, pikiran, kemauan, dan fantasi yang dinamakan budi.”
Cukup banyak, cukup abstrak, dan cukup ruwet kan? Nah, supaya tidak ruwet, kita uraikan saja secara umum bagian-bagian kebudayaan seperti ini, yaitu: (1) Adat-istiadat, (2) Alat dan perlengkapan hidup, (3) Mata pencaharian, (4) Kesenian, (5) Bahasa dan sastra, (6) Sejarah manusia, (7) Sistem religi. Agar tampak jelas, kebudayaan Indramayu bisa diuraikan secara terperinci.

***

Sekarang kita kerucutkan pada kebudayaan Indramayu. Coba kita uraikan, ada apa saja budaya Dermayu itu? Kita uraikan satu-persatu, ya?
Budaya dalam Indramayu itu terdiri dari:

(1) Adat-istiadat Indramayu:
a. Upacara adat desa : sedekah bumi, mapag sri, ngunjung, nadran, baritan, ngarot, dsb.
  • Sedekah bumi: Syukuran warga desa setelah masim tanam padi. Biasanya menggelar pertunjukan wayang kulit di balaidesa, dengan lakon Bumi Loka atau asal-usul padi dari Dewi Sri.
  • Mapag Sri: Syukuran warga desa menjelang musim panen padi. Biasanya menggelar pertunjukan wayang kulit di balaidesa, dengan lakon Bumi Loka atau asal-usul padi dari Dewi Sri.
  • Ngunjung: Ziarah kubur ke luluhur desa. Biasanya digelar doa bersama dan pertunjukan wayang golek cepak/menak di areal kuburan desa, dengan lakon babad desa tersebut.
  • Nadran: Syukuran nelayan, biasanya menggelar pertunjukan wayang kulit di areal koperasi nelayan, dengan lakon Budug Basu atau asal-usul ikan.
  • Baritan: Upacara tolak bala/penyakit, biasanya menggelar pertunjukan wayang golek cepak/menak atau doa bersama, bertempat di perempatan desa atau kuburan desa.
  • Ngarot: Syukuran warga beberapa desa di Kecamatan Lelea dan Cidekung menjelang musim tanam padi. Dari balaidesa, Kuwu memberikan alat-alat pertanian kepada kaum muda laki-laki dan bibit tanaman padi kepada kaum muda perempuan. Mereka berkeliling desa, kembali ke balaidesa. Digelar pertunjukan Topeng Lanangyang ditonton kaum perempuan, dan pertunjukan Ronggeng Ketukyang ditonton kaum laki-laki.
  • Mapag Tamba: Pengaruh Ki Kuwu Sangkan sejak abad ke-15/16 demikian kuatnya, sampai-sampai setiap usai musim tanam padi, dilakukan ritual mapag tamba. Tamba (obat) diambil dari Keraton Cirebon kemudian dijadikan obat untuk tanaman padi.
Karnaval nadran di Cirebon & Indramayu

b. Upacara adat dalam keluarga : hajatan perkawinan, khitanan, rasulan, adat wanita mengandung sampai melahirkan, adat kematian, dsb.
  • Hajatan perkawinan: Syukuran setelah ijab qabul menikah, digelar hiburan. Biasanya ada sistem buwuhan berupa beras atau uang (sumbangan yang terikat seperti arisan).
  • Hajatan khitanan: Syukuran setelah atau berbarengan pada saat anak laki-laki dikhitan, digelar hiburan. Biasanya ada sistem buwuhan berupa beras atau uang (sumbangan yang terikat seperti arisan).
  • Hajatan rasulan: Syukuran untuk anak perempuan (mungkin karena tak punya anak laki-laki), digelar hiburan. Biasanya ada sistem buwuhan berupa beras atau uang (sumbangan yang terikat seperti arisan).
  • Adat wanita mengandung sampai bayi dilahirkan: Dari mulai ngupati(kandungan 4 bulan), mitung wulan (kandungan 7 bulan), bubur lolos(8 bulan), bancakan lenga (9 bulan), syukuran bayi lahir, coplok wudel (usia bayi antara 3-15 hari), gawe aran (usia bayi 1-2 minggu), cukur rambut bayi (usia bayi 40 hari), udun-udunan (usia anak 7 bulan).
  • Adat kematian: Dari mulai memperingati kematian nelung dina (3 hari), mitung dina (7 hari), matang puluh (40 hari), ngatus (100 hari), ngewu (1000 hari).
c. Adat gotong-royong, tolong-menolong, dsb.: memperbaiki jalan, lingkungan, solokan, memberantas hama tikus, membuat rumah, membuat tempat ibadah, dsb.

(2) Mata pencaharian penduduk tradisional Indramayu:
a. Petani: Bersawah tadah hujan (kini: dengan pengauran teknis), berladang, berkebun.
b. Nelayan: Menangkap berbagai jenis ikan di laut dengan perahu atau kapal tradisional.
c. Pedagang: Berdagang hasil pertanian, barang-barang lain, dsb.
d. Buruh: Bekerja di sawah, ladang, atau pekerjaan serabutan lainnya.



(3) Alat, produksi, dan perlengkapan hidup:
a. Kerajinan alat-alat pertanian: cangkul, golok, pedang, sabit, garu, dsb.
b. Kerajinan alat-alat dan perlengkapan nelayan: perahu, kapal, jaring, dsb.
c. Kerajinan alat angkutan tradisional: pedati, dokar, gerobak, dsb.
d. Keterampilan membuat rumah: Rumah berbagai model arsitektur.
e. Keterampilan membuat busana: Batik dan tenun dalam bentuk baju, celana, kain, dsb.
f. Keterampilan membuat wadah tertentu: Wadah air, wadah beras, wadah uang, dsb.
g. Keterampilan membuat alat rumah tangga: Alat dapur, perabotan rumah tangga, dsb.
h. Keterampilan membuat makanan: Makanan khas (nasi lengko, pedesan entog, empal, sate, grejeg, dsb.),  kue-kue tradisional (koci, sempora, wajik, dodol, jalabia, bugis, tape, cikak, dsb.)

(4) Kesenian Indramayu:
a. Seni Rupa: kedok, wayang kulit, wayang golek, lukisan kaca, melukis di perahu, melukis di becak, lukisan layar sandiwara, ornamen rumah, dsb.
b. Seni Teater: Sandiwara, Tarling, Wayang kulit, wayang golek.
c. Seni Musik: Musik tarling, gamelan wayang kulit, gamelan wayang golek, gamelan sandiwara, gamelan tari topeng, tari tayuban, kliningan, renteng.
d. Seni Suara: Lagu dalam macapat, lagu dalam tarling, lagu dalam sandiwara, lagu dalam wayang kulit, lagu dalam wayang golek.
e. Seni Sastra: Syair macapat.


(5) Bahasa dan sastra Indramayu:                                                                       
Secara umum banyak dipengaruhi oleh bahasa Jawa, yakni dari;
a. Penyebaran agama Islam oleh para Wali maupun ulama dan Ki Gede dari Demak dan Cirebon.
b. Pengaruh Mataram Sultan Agung secara politik maupun budaya, yang kemudian menciptakan tingkatan (undak-usuk bahasa). Kini di Indramayu hanya dikenal dua tingkatan, yakni bahasa ngoko/bagongan (kasar) dankrama (halus), atau bahasa pedinan dan bebasan.
c. Pengaruh dari SR (Sekolah Rakyat), SGB (Sekolah Guru Baru), SGA (Sekola Guru Atas) yang guru-gurunya mayoritas dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dan mengajarkan bahasa Jawa Wetan.
d. Bahasa: 2 tingkatan (Ngoko/Bagongan/Padinan dengan Krama/Bebasan)
  • Ngoko/bagongan/padinan: Digunakan sehari-hari, dianggap lebih komunikatif walaupun kurang halus. Merupakan rumpun bahasa Jawa pesisir (atau menurut Perda Jabar No. 5/2003 adalah bahasa Cirebon).
  • · Krama/Bebasan: Digunakan saat berbicara dengan orang tua, orang yang lebih dewasa atau lebih tua, dianggap lebih halus dan sopan. Merupakan rumpun bahasa Jawa pesisir (atau menurut Perda Jabar No. 5/2003 adalah bahasa Cirebon).
e. Sastra: Purwakanti, Wangsalan, Parikan, Pribasa, Gugon Tuwon, Jawokan.
  • Purwakanti: Persamaan bunyi akhir di tiap baris (rima).
           Contoh: Sedina
                        sun kelaya
                        Seminggu
                        sun kelayu
                        Sewulan
                        sun kēlingan
                        Setaun
                        Sun keyungyun
  • Wangsalan: Wangsal-wangsul; jawab-pulang; kalimat yang mengungkapkan maksud dengan menggunakan kata-kata yang mirip atau mendekati maksud.
          Contoh: krikil kali, bokat wis waktunē
                       (krikil kali adalah watu, diasosiakan sebagai waktu)
  • Parikan: Pantun dalam bahasa daerah.
          Contoh: Mangan lepet mangan sempora
                       Mangan koci katut kulitē
                       Demen ruket bli kira-kira
                       Dadi siji angēl awitē

  • Pribasa: Peribahasa dalam istilah dan bahasa daerah.
          Contoh: Gedongana koncēnana
          Wong mati mangsa wurunga

  • Gugon Tuwon: Sebuah kalimat yang mengandung nasehat, mengajarkan tentang hidup, dan perilaku yang semestinya dijalani manusia. Berasal dari kata gugu (ditaati, diikuti) dan tuwa (orangtua).
         Contoh gugon tuwon dari Sunan Gunungjati:
         Ingsun titip tajug lan fakir miskin.
         Arti: Aku (Sunan Gunungjati) titipkan tajug/mushola/masjid dan fakir miskin.
         Yen kiyeng tamtu pareng, yen bodoh kudu weruh, yen pinter aja keblinger.
         Arti: Jika tekun pasti berhasil, jika bodoh harus berpengetahuan, jika pandai jangan pandai menurut diri-        sendiri dan seenak sendiri.
         Yen sembahyang kungsiya pucuke panah
         Arti: Jika sholat seperti berada pada ujung panah.
  • Jawokan: Susunan kata-kata dalam suatu kalimat, yang terdiri dari satu kalimat atau lebih yang berfungsi sebagai mantra atau doa.
          Contoh: Niat isun arep maca kemat jaran guyang
                       Dudu ngemat-ngemat tangga
                       Dudu ngemat wong liwat ning dalan
                       Sing tek kemat Nok Suratminah
                       Anakē Bapa Dam kang dunyaē lelantakan
                       Yēn lagi turu gagē nglilira

               Yēn wis nglilir gagē njagonga
               Yēn wis njagong gagē ngadega
                       Mlayua mbrengēngē kaya jaran sedalan-dalan
                       Teka welas teka asih
                      Nok Suratminah welas asih ning badan isun”

(6) Sejarah manusia Indramayu:
a. Adanya Kerajaan Manukrawa pada abad ke-5 di sekitar hilir sungai Cimanuk (berdasar Naskah Wangsakerta).
b. Kerajaan Sumedanglarang ketika berdiri pada abad ke-8, batas wilayahnya mencapai daerah-daerah yang sekarang termasuk Kabupaten Indramayu (Lelea, Kandanghaur).
c. Ulama Syeh Datuk Kahfi/Syeh Idhofi/Syeh Nurjati (adik ipar Sultan Sulaiman dari Baghdad) pada tahun 1420 tiba di Cirebon dan menetap di Pesambangan, Giri Amparan Jati. Pengaruhnya sampai Indramayu. Petilasannya ada di Desa Pabean Ilir Kec. Pasekan.
d. Makam Pangeran Guru (Pangeran Selawe) di Desa Dermayu Kec. Sindang, bermotifkan ”surya majapahit”, yang mengindikasikan pengaruh Majapahit pada abad ke-15 sudah sampai ke Indramayu.
e. Kerajaan Cirebon ketika baru berdiri tahun 1479, batas wilayah ke barat sampai daerah Junti. Batas lainnya adalah Losari (timur), Palimanan (selatan), Cigugur Kuningan (tenggara).
f. Pengelana Portugis, Tom Pires, pada tahun 1513 mencatat adanya pelabuhan Cimanuk, yang merupakan pelabuhan terbesar kedua setelahKalapa (Sundakalapa). Pelabuhan lainnya adalah Bantam (Banten),Pomdam (Pontang), Cheguide (Cigede), Tamgaram (Tangerang).Masyarakat sekitar pelabuhan Cimanuk sudah muslim, tetapi syahbandarnya penyembah berhala dari Kerajaan Sunda/Pajajaran.
g. Naskah Wangsakerta menyebutkan, Wiralodra adalah prajurit Mataram Sultan Agung yang ikut menyerbu Batavia (1628-1629) yang mengalami kekalahan. Dia ditugasi untuk menetap di Cimanuk untuk membuka pesawahan baru. Kelak menjadi Adipati di Indramayu. Versi lain, menyebut Wiralodra dari Demak.
h. Pengaruh Sultan Agung yang menguasai daerah-daerah di Jawa Barat selama 57 tahun (1620-1677).

(7) Sistem religi dan kepercayaan yang berkembang di Indramayu:
a. Upacara keagamaan.
b. Kepercayaan adanya Tuhan.
c. Sistem nilai dan pandangan hidup.

***

Jika sudah mengetahui uraian di atas, bagian-bagian kebudayaan memang luas kan? Dan ternyata budaya Dermayu itu cukup kaya kan? Jadi, kalau mengatakan budaya Dermayu itu hanya kesenian belaka, itu baru sebagian kecil saja. Sebab kebudayaan bukan hanya kesenian, tetapi juga ada adat-istiadat, alat dan perlengkapan hidup dan produksi, mata pencaharian, bahasa dan sastra, sejarah manusia, dan sitem religi.


Jumat, 13 Januari 2012

All in One Hack Ninja Saga

Sobat NS, dah lama saya tidak memposting cheat Ninja Saga nih. Kali ini saya akan membagikan cheat Ninja Saga terbaru, yaitu All in One Hack Ninja Saga. Cheat ini masih berfungsi saat saya menulis artikel ini (tanggal 13 januari 2012). OK, langsung saja kita siap-siap untuk nge-cheat

Fitur cheat :

  • 40 TP per day
  • Auto pillot (Hunting House kill all automatically in one hit)
  • Daily task & NPC hack
  • Atribute char hack 


Peralatan :
Install aplikasi Fiddler2 & download juga file SWF  cheat :
Tutorial menggunakan cheat :
  • Download file cheat SWF pada link di atas
  • Bersihkan terlebih dahulu histori & cache browser anda
  • Log in ke Facebook, dan buka game Ninja Saga
  • Buka fiddler2, klik tab "auto responder"
  • Centang kotak "enable automatic responses" & "unmatched request passtrough"
  • Jatuhkan file SWF cheat yang sudah didownload kedalam tab "auto responder"
  • Masuklah ke "Shop" pada game Ninja Saga
  • Pilih menu misi yang ingin anda selesaikan

Cara menghaspus Cache & Histori browser :
  • Untuk Mozilla Firefox : Tools -> Options -> Advanced -> Pilih Network Tab -> Clear Now -> Klik OK
  • Untuk Google Chrome : Pilih icon yang berada di pojok kanan atas (sebelah bintang) -> Options -> Under the Hood -> Clear Browsing Data -> Empty the cache -> Clear Browsing Data

Senin, 02 Januari 2012

Sosok Pengusaha Pribumi Sukses Dari Tanah Pantura

Belum banyak pengusaha besar yang berasal dari dataran pantura (Tegal, Brebes, Cirebon, Subang atau Indramayu). Taraf ekonomi dan kesejahteraan yang masih rendah, merupakan salah satu faktor penghambat munculnya wirausahawan di tanah pantura. Selain itu, faktor infrastuktur dan sumber daya manusia (SDM) masyarakat yang masih rendah juga turut mempengaruhi sulitnya mengembangkan suatu usaha di wilayah pesisir utara Jawa ini. Namun, apakah anda mengetahui bahwa ada salah seorang wirausahawan sukses dari kota Brebes? Ya, dialah Muhadi Setiabudi, sang owner dari Dedy Jaya Group. Berikut kisah beliau hingga menjadi pengusaha yang sukses seperti sekarang ini. Benar-benar from Zero to Hero, membangun usaha dari nol hingga menjadi berkembang-biak. Jatuh-bangun pernah ia alami.

Kisah sukses Muhadi menjadi pengusaha Dedy Jaya Group

Lewat kerja keras dan keuletan, Muhadi sukses menjadi pengusaha bus Dedy Jaya. Ia merintis usahanya dari berdagang es lilin serta menjadi kondektur bus. Kini bisnisnya sudah menggurita, mulai dari hotel, pabrik cat, mal, hingga toko bangunan.

Soal nasib urusan belakang. Itulah pegangan hidup Muhadi Setiabudi, konglomerat asal Brebes, Jawa Tengah. Kerja kerasnya selama sekitar 19 tahun kini membuahkan hasil. Grup usaha PT Dedy Jaya Lambang Perkasa yang berdiri sekitar 15 tahun silam, kini menjelma menjadi kerajaan bisnis dengan 2.500 karyawan. Lini usahanya juga sungguh beragam luas, mulai dari mengelola ratusan armada di bawah bendera perusahaan otobus (PO) Dedy Jaya, hotel, pabrik cat, toko bahan bangunan, toko emas, hingga bisnis mal di Tegal. “Nasib itu urutan kesekian. Siapa pun yang bekerja keras pasti bisa berhasil,” ucap lelaki kelahiran Brebes, Maret 1961 ini mantap.

Muhadi tentu tidak asal omong. Boleh dibilang pria yang hanya menamatkan pendidikan Madrasah Tsanawiyah atau MTs (setingkat SMP) dari sebuah pesantren di Cirebon ini, benar-benar sudah membuktikannya. Maklum, kerajaan bisnisnya itu ia rintis dengan susah payah dan bukan terima menjadi dari warisan. “Saya benar-benar mulai dari nol besar,” tandas bapak tiga anak ini.

Merintis sukses dari berdagang bambu

Simak saja kisahnya. Muhadi muda sempat melakoni pekerjaan kasar seperti berdagang es lilin di kampung, menjadi kondektur bus, serta berjualan minyak tanah. Pekerjaan itu ia jalani hingga 1979 atawa sekitar lima tahun sejak menamatkan pendidikan menengah. Di saat senggang, ia juga ikut membantu ayahnya bertani di sawah.

Jalan terang agaknya mulai terbentang setelah Muhadi menikahi Atik Sri Subekti pada 1981. “Waktu itu umur saya baru 19 tahun, tapi saya nekat menikah,” tuturnya mengenang. Nasibnya berubah bukan karena dia menikahi anak konglomerat. Sebaliknya, mungkin karena kian terdesak harus membiayai keluarga barunya, dia tak bisa lagi menyandarkan penghasilan dari kerja serabutan itu.

Maka, Muhadi mulai menerjuni usaha dagang bambu dengan modal awal sekitar Rp 50.000. Modal ini ia kumpulkan dari upah membantu orang tuanya di sawah. “Usaha ini masih saya pertahankan sampai sekarang karena ia adalah cikal bakal semua usaha yang tidak bisa saya lupakan,” tutur Muhadi.

Guratan sukses Muhadi tampaknya memang sudah terukir di bambu. Sebab, jerih payahnya berjualan bambu tersebut menuai hasil lumayan. Apalagi beberapa pesanan dalam jumlah besar juga mulai berdatangan. Misalnya, dia sempat mendapat order dari sebuah kontraktor bangunan untuk menyuplai ribuan batang. Untungnya meningkat, dari sekitar Rp 70.000 sebulan menjadi Rp 470.000 saban bulan.

Selain mendapat order, ada berkahnya juga Muhadi bergaul dengan para kontraktor itu. Ia jadi mulai mafhum tentang seluk-beluk usaha bahan bangunan. Dua tahun setelah berdagang bambu, Muhadi lantas mendirikan toko bahan bangunan dengan modal yang ia kumpulkan dari untung berdagang bambu. “Kekurangannya saya pinjam dari bank,” ucapnya terus terang.

Rupanya pilihan Muhadi melebarkan sayap ke bisnis bahan bangunan sungguh tepat. Karena usaha barunya itu benar-benar menjadi tambang emas yang tiada henti mengalirkan untung. Bahkan, tujuh tahun setelah berkutat di material, keuntungannya dari berjualan bahan bangunan sudah bisa menjadi modal untuk membeli beberapa bus besar. Muhadi seperti terobsesi berusaha di jasa sarana angkutan. Boleh jadi selain meraup untung dari jasa ini, dia ingin mengenang masa sulitnya menjadi kondektur.

Kini, jumlah armada busnya yang berbendera PO Dedy Jaya sudah mencapai ratusan unit. Penumpang asal Pantura, Tegal, Pekalongan, dan Purwokerto yang hendak ke Jakarta tentu sudah tak asing lagi dengan bus ini. Maklum, Dedy Jaya melayani trayek Jakarta-Purwokerto, Jakarta-Tegal, dan Jakarta-Pemalang- Pekalongan. Ia mencomot nama untuk bus serta grup usahanya dari nama anak pertamanya, Dedion Supriyono. Selain menggeluti bus, Muhadi juga mulai merambah ke toko emas dan bisnis perkayuan.

                                                          Gambar. Armada Bus PO. Dedy Jaya

Masih muda sudah kaya raya

Konglomerasi bisnis Muhadi tak berhenti sampai di situ saja. Ia pun mulai melirik bisnis pusat perbelanjaan lantaran melihat peluang yang masih terbuka lebar di Tegal. Selain itu, “Saya ingin menjadi pelopor pengembang pribumi, daripada peluang itu diambil developer dari luar,” ucapnya.

Alhasil, berdirilah Mal Dedy Jaya pada 1998, yang kini menjadi pusat perbelanjaan termegah di kota warteg itu. Tak puas mendirikan mal, Muhadi lantas menerjuni pula bisnis perhotelan. Dua tahun berselang setelah membangun mal itu, ia juga membangun dua hotel berbintang sekaligus. Satu di Tegal dan satunya lagi di Brebes.
Gambar. Plaza Dedy Jaya, Brebes

Sepak terjang Muhadi boleh dibilang mencengangkan karena ia membangun kerajaan bisnis itu saat usianya baru menginjak 31 tahun. Tak heran jika ia mendapat banyak penghargaan berkat keuletannya tersebut. Ini bisa dilihat dari tiga buah lemari besar yang penuh berisi berbagai penghargaan. Yang paling membanggakan Muhadi, dia pernah terpilih menerima penghargaan upakarti dari presiden. “Saya bangga, karena saya ini cuma orang desa,” tuturnya merendah.

Muhadi tak memungkiri bahwa perkembangan bisnisnya ini tak lepas dari peran bank yang mengucurinya kredit. Tentu saja tak serta-merta bank mau mengucurkan pinjaman ketika usahanya belum sebesar sekarang. Kendati sekarang utangnya masih lumayan besar, dia mengaku tak risau ataupun malu. “Saya baru malu kalau tak bisa membayar,” tegasnya.

Begitulah, kerja kerasnya kini sudah membuahkan hasil. Toh, ia tak lantas puas dengan hasil yang sudah ia peroleh. Muhadi juga tak lantas bermewah-mewah dengan hasilnya selama ini. Kantornya pun sederhana. Hanya sebuah ruang seluas 24 m2 di salah satu sudut rumahnya di Jalan Raya Cimohong, Bulakamba, sekitar tujuh kilometer dari pusat kota Brebes. Toh, dari kota kecil inilah Muhadi mengendalikan bisnisnya yang sudah menggurita.

Menggulung Layar Hiburan dan Kapal Ikan

Sudah lumrah setiap ada senang pasti ada susah. Kalau tidak untung ya rugi. Demikian pula dengan bisnis yang dijalani Muhadi. Tidak semua usahanya berjalan mulus dan menjadi tambang duit yang berlimpah. Salah satu usahanya yang terpuruk adalah bioskop Dedy Jaya di Tegal. Semula bioskopnya sempat menjadi maskot dan sasaran hiburan warga Tegal. Namun, usaha itu menjadi berantakan akibat membanjirnya video compact disc (VCD) bajakan yang murah meriah. Bioskopnya menjadi sepi pengunjung dan pemasukannya makin seret hingga berbuntut rugi. Tak heran Muhadi lantas melego bisnis tontonannya itu.

Selain bioskop, bisnis kapal ikannya pun terpaksa gulung tikar. Itu terjadi akibat sengitnya persaingan di Tegal serta belitan krisis moneter pada 1997 hingga 1998. Padahal, kala itu usaha Muhadi baru mulai berbiak dan membutuhkan dana besar untuk mengembangkannya. Sayang, ketika itu tak ada bank yang berani mengucurkan kredit. Muhadi mengaku hampir menyerah saat itu lantaran imbasnya begitu dahsyat menerpa usahanya. “Berat sekali waktu itu. Ternyata lebih mudah merintis ketimbang mempertahankan usaha yang sudah ada,” kenang Muhadi.

Share it

Entri Populer