Selasa, 27 September 2011

Sejarah & Corak Unik Batik Cirebon

Kisah membatik di Cirebon berawal dari peranan Ki Gede Trusmi, salah seorang pengikut setia Sunan Gunung Jati yang mengajarkan seni membatik sambil menyebarkan agama Islam. Sampai sekarang, makam Ki Gede di desa Trusmi masih terawat baik, malahan setiap tahun dilakukan upacara ritual yang cukup khidmat yakni upacara Ganti Welit (atap rumput) dan Ganti Sirap setiap empat tahun. Usaha yang bermula dari skala rumahan lama kelamaan menjadi industri kerajinan yang berorientasi bisnis. Produk batik Cirebon bukan sekadar memenuhi kebutuhan lokal, tetapi sebagian pengrajin / pedagang mengekspornya ke mancanegara seperti Jepang, Amerika, Malaysia, Thailand dan Belanda. Keunikan motif serta corak yang dihasilkan dari batik-batik berbagai daerah merupakan kekuatan yang sangat luar biasa, khususnya bagi kekayaan seni budaya Indonesia.

Belum ada di negara manapun yang memiliki kekayaan desain motif batik seperti yang di miliki oleh bangsa Indonesia. Cirebon merupakan penghasil batik dengan motif dan corak yang kuat dan khas. Batik Cirebon termasuk kedalam kelompok batik Pesisiran. Namun sebagian batik Cirebon termasuk dalam kelompok batik Keraton, yaitu Keratonan Kasepuhan dan Keraton Kanoman.Beberapa desain batik Cirebon Klasik seperti motif Mega Mendung, Paksinaga Liman, Patran Keris, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas termasuk dalam kelompok batik Keraton. Batik Cirebonan Pesisiran dipengaruhi oleh karakter penduduk masyarakat pesisiran yang pada umumnya memiliki jiwa terbuka dan mudah menerima pengaruh asing. Daerah sekitar pelabuhan biasanya banyak orang asing singgah, berlabuh hingga terjadi perkawinan lain etnis (asimilasi) maka batik Cirebonan Pesisiran lebih cenderung menerima pengaruh dari luar. Warna-warna batik Cirebonan Pesisiran lebih atraktif dengan menggunakan banyak warna. Beberapa design batik pesisiran antara lain; Kapal Kompeni, Penari Cina, Pekalis, Semarangan, Burung Gelatik dan lain lain.

Keunggulan Batik Trusmi Cirebon

Pada even pameran batik di Jakarta maupun di kota lain seringkali pengunjung menanyakan kepada saya “Apa sih keunggulan batik Trusmi atau batik Cirebonan dibanding dengan batik-batik yang berasal dari daerah lain?”.

Menurut pendapat saya bahwa pada dasarnya batik-batik yang dihasilkan oleh sentra-sentra kerajinan batik di berbagai daerah pada umumnya bagus-bagus serta memiliki corak motif batik yang beragam. Dengan demikian sifat khas dan keunikan batik-batik daerah tersebut tidak bisa dikatakan batik yang satu lebih baik dari daerah lainnya. Keunikan motif serta corak yang dihasilkan dari batik-batik di berbagai daerah merupakan kekuatan dan kekayaan yang sangat luar biasa, khususnya bagi kebudayaan batik Indonesia.

Belum ada di negara manapun yang memiliki kekayaan desain motif batik seperti yang di miliki oleh bangsa Indonesia. Yang sangat membanggakan kita semua adalah, pada tiap-tiap daerah memiliki desain serta motif-motif yang khas dengan penamaan motif yang menggunakan bahasa daerahnya masing-masing. Misalnya saja motif batik dari Aceh ada Pintu Aceh, Cakra Doenya, Bungong Jeumpa. Dari Riau ada Itik Pulang Petang, Kuntum Bersanding, Awan Larat dan Tabir. Batik dari Jawa diantaranya Jelaprang (Pekalongan), Sida Mukti, Sida Luhur (Solo), Patran Keris, Paksinaga Liman, Sawat Penganten (Cirebon), dll.

Untuk mengetahui tentang bukti banyaknya kekayaan desain motif-motif batik Indonesia contoh yang paling sederhana bisa dilihat di wilayah Jawa Barat, di wilayah ini terdapat puluhan sentra batik diantaranya dari wilyah paling Timur ada Cirebon, wilayah bagian Utara ada Indramayu, kemudian ke arah bagian Barat dan Selatan terdapat Kabupaten Ciamis, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Garut. Walaupun masih dalam satu propinsi dan kultur budaya yang sama (budaya Sunda), namun bisa kita temui adanya perbedaan motif dan ragam hias batik yang jauh berbeda antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya. Seperti pada daerah Cirebon dengan Indramayu memiliki karakter dan desain motif yang berbeda, terlebih lagi antara daerah Cirebon dan Garut memiliki perbedaan motif, corak serta ragam hias yang sangat signifikan perbedaannya. Perbedaan itu dipengaruhi oleh kultur budaya dan tingkat keahlian dari para pengrajin batiknya. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat batik relatif sama baik dari bentuk canting, bentuk cap maupun jenis lilinnya. Namun ketika proses produksi berjalan ada kalanya kondisi unsur air tanah dengan kualitas PH yang berbeda-beda bisa mempengaruhi hasil pewarnaan akhir. Demikian pula dengan sifat kesabaran dan keuletan pengrajin batik di tiap-tiap daerah, juga akan bisa mempengaruhi kualitas akhir batik yang dihasilkannya.
Daerah sentra produksi batik Cirebon berada di desa Trusmi Plered Cirebon yang konon letaknya di luar Kota Cirebon sejauh 4 km menuju arah barat atau menuju arah Bandung. Di desa Trusmi dan sekitarnya terdapat lebih dari 1000 tenaga kerja atau pengrajin batik. Tenaga kerja batik tersebut berasal dari beberapa daerah yang ada di sekitar desa Trusmi, seperti dari desa Gamel, Kaliwulu, Wotgali dan Kalitengah.

Secara umum batik Cirebon termasuk kedalam kelompok batik Pesisiran, namun juga sebagian batik Cirebon termasuk dalam kelompok batik keraton. Hal ini dikarenakan Cirebon memiliki dua buah keraton yaitu Keratonan Kasepuhan dan Keraton Kanoman, yang konon berdasarkan sejarah dari dua keraton ini muncul beberapa desain batik Cirebonan Klasik yang hingga sekarang masih dikerjakan oleh sebagian masyarakat desa Trusmi diantaranya seperti motif Mega Mendung, Paksinaga Liman, Patran Keris, Patran Kangkung, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas, Sawat Penganten, Katewono, Gunung Giwur, Simbar Menjangan, Simbar Kendo dan lain-lain.

Beberapa hal penting yang bisa dijadikan keunggulan atau juga merupakan ciri khas yang dimiliki oleh batik Cirebon adalah sbb:
  • Desain batik Cirebonan yang bernuansa klasik tradisional pada umumnya selalu mengikut sertakan motif wadasan (batu cadas) pada bagian-bagian motif tertentu. Disamping itu terdapat pula unsur ragam hias berbentuk awan (mega) pada bagian-bagian yang disesuaikan dengan motif utamanya.
  • Batik Cirebonan klasik tradisional selalu bercirikan memiliki warna pada bagian latar (dasar kain) lebih muda dibandingkan dengan warna garis pada motif utamanya.
  • Bagian latar atau dasar kain biasanya nampak bersih dari noda hitam atau warna-warna yang tidak dikehendaki pada proses pembuatan. Noda dan warna hitam bisa diakibatkan oleh penggunaan lilin batik yang pecah, sehingga pada proses pewarnaan zat warna yang tidak dikehendaki meresap pada kain.
  • Garis-garis motif pada batik Cirebonan menggunakan garis tunggal dan tipis (kecil) kurang lebih 0,5 mm dengan warna garis yang lebih tua dibandingkan dengan warna latarnya. Hal ini dikarenakan secara proses batik Cirebon unggul dalam penutupan (blocking area) dengan menggunakan canting khusus untuk melakukan proses penutupan, yaitu dengan menggunakan canting tembok dan bleber (terbuat dari batang bambu yang pada bagian ujungnya diberi potongan benang-benang katun yang tebal serta dimasukkan pada salah satu ujung batang bambu).
  • Warna-warna dominan batik Cirebonan klasik tradisional biasanya memiliki warna kuning (sogan gosok), hitam dan warna dasar krem, atau berwarna merah tua, biru tua, hitam dengan dasar warna kain krem atau putih gading.
  • Batik Cirebonan cenderung memilih sebagian latar kainnya dibiarkan kosong tanpa diisi dengan ragam hias berbentuk tanahan atau rentesan (ragam hias berbentuk tanaman ganggeng). Bentuk ragam hias tanahan atau rentesan ini biasanya digunakan oleh batik-batik dari Pekalongan.

Masih dengan batik Cirebonan, namun mempunyai ciri yang berbeda dengan yang sebelumnya yaitu kelompok batik Cirebonan Pesisiran. Batik Cirebonan Pesisiran sangat dipengaruhi oleh karakter masyarakat pesisiran yang pada umumnya memiliki jiwa terbuka dan mudah menerima pengaruh budaya asing. Perkembangan pada masa sekarang, pewarnaan yang dimiliki oleh batik Cirebonan lebih beraneka warna dan menggunakan unsur-unsur warna yang lebih terang dan cerah, serta memiliki bentuk ragam hias yang bebas dengan memadukan unsur binatang dan bentuk-bentuk flora yang beraneka rupa.
Pada daerah sekitar pelabuhan biasanya banyak orang asing yang singgah, berlabuh hingga terjadi perkawinan etnis yang berbeda (asimilasi), maka batik Cirebonan Pesisiran lebih cenderung menerima pengaruh budaya dari luar yang dibawa oleh pendatang. Sehingga batik Cirebon yang satu ini lebih cenderung untuk bisa memenuhi atau mengikuti selera konsumen dari berbagai daerah (lebih kepada pemenuhan komoditas perdagangan dan komersialitas), sehingga warna-warna batik Cirebonan Pesisiran lebih atraktif dengan menggunakan banyak warna.

Produksi batik Cirebonan pada masa sekarang terdiri dari batik Tulis, batik Cap dan batik kombinasi tulis cap. Pada tahun 1990 – 2000 ada sebagian masyarakat pengrajin batik Cirebonan yang memproduksi kain bermotif batik Cirebonan dengan teknik sablon tangan (hand printing), namun belakangan ini teknik sablon tangan hampir punah, dikarenakan kalah bersaing dengan teknik sablon mesin yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang lebih besar. Pertumbuhan batik Trusmi nampak bergerak dengan cepat mulai tahun 2000, hal ini bisa dilihat dari bermunculan showroom-showroom batik yang berada di sekitar jalan utama desa Trusmi dan Panembahan. Pemilik showroom batik Trusmi hampir seluruhnya dimiliki oleh masyarakat Trusmi asli walaupun ada satu atau dua saja yang dimiliki oleh pemilik modal dari luar Trusmi.

Sabtu, 24 September 2011

Aroma Mistis di Jembatan Sewu

Ada yang menarik jika anda melintasi jembatan Sewu di jalur pantai utara. Terlihat sejumlah warga memegang sapu mengharapkan uang yang dilemparkan para penggendara yang melintasi Jembatan yang terletak tepat di perbatasan wilayah Subang dan Indramayu itu.

Kalau mereka melempar uang, diyakini nanti keinginannya itu akan terkabul. Atau mungkin saja, ada orang yang nazar agar mereka selamat dalam perjalanan, atau ingin anak-anaknya sukses.

Dengan memakai kaos yang dililitkan di kepala untuk melindungi dari terik matahari, mereka tampak seperti tengah membersihkan jalan sambil menunggu derma dari pelintas jembatan tersebut. Tak ada raut takut akan tertabrak oleh kendaraan yang sedang berlalu lalang.

Ketika, beberapa logam atau lembaran rupiah dilemparkan dari balik jendela mobil, wooss!! Dengan sigap mereka berebut satu sama lain untuk memungut 'rejeki' itu. "Lima ribu, lumayan Mas," tutur Junaidi (28), seusai mengambil recehan itu.

Junaidi menuturkan, sudah menjadi kebiasaan bagi pengemudi yang tahu, untuk melempar uang receh saat melintasi jembatan. Menurutnya, ada semacam kepercayaan warga setempat, yaitu dengan melempar uang di Jembatan Sewu akan membawa berkah bagi si pelempar

"Kalau mereka melempar uang, diyakini nanti keinginannya itu akan terkabul. Atau mungkin saja, ada orang yang nazar agar mereka selamat dalam perjalanan, atau ingin anak-anaknya sukses," tutur Junaidi yang mengaku per hari bisa mendapat penghasilan Rp 10.000 hingga Rp 15.000 itu dari pekerjaannya itu.

Lebih lanjut, Junaidi menceritakan asal muasal munculnya kegiatan saweran tersebut. Menurut keterangan para leluhurnya, jauh sebelum jembatan itu dibentuk, di bawahnya dialiri kali yang dipenuhi siluman buaya. Konon, beberapa warga yang ingin menyebrangi sungai itu dengan getek, seringkali tidak selamat karena terjatuh. Tak jelas alasan mengapa mereka sampai terjatuh.

"Setelah itu, ada dua saudara yang bernama Saida dan Saini. Mereka berniat untuk melintasi sungai itu, dan bernazar, jika berhasil melewati sungai itu, mereka akan memberikan sesembahan seperti ayam, atau bebek. Dan akhirnya mereka berhasil, nah semenjak itu, orang selalu percaya dengan melemparkan sesembahan ke Kali Sewu agar dapat selamat," ungkap Junaidi.

"Tetapi kalau dulu pakai ayam, bebek, sekarang pakai uang receh ini," imbuhnya.

Cerita sama datang dari Fadoli (27). Warga Desa Sukra, Kapubaten Indramayu ini mengatakan, seringkali beberapa pengemudi kendaraan mengalami kejadian aneh usai melintasi jembatan Sewu. Hal itu terjadi karena keluhan para pengendara mengenai keberadaan para 'pencari receh' itu di pinggir jalan. "Banyak yang kesurupan kalau lewat jembatan ini (bersikap) gak sopan. Bahkan, ngusirnya itu susah, sampe bawa dokter juga ga mampu. Akhirnya keluarga mereka sendiri yang menyerahkan sesajen ke kali Sewu. Habis itu baru bisa sadar lagi," kata Fadoli.

"Jadi kalau mau ngasih ya ngasih, kalau engga ya engga. Padahal, mereka juga kan engga maksa minta uangnya. Yang penting jangan ngomong sembarangan lah kalau lewat Jembatan Sewu,"

Kamis, 22 September 2011

Hajatan & Kesenian, Sebuah Simbiosis Mutualisme Masyarakat Pantura

Selama berpuluh-puluh tahun eksistensi berbagai jenis seni pertunjukan di tatar Cerbon-Dermayu sulit dilepaskan dari acara hajatan. Seperti simbiosis mutualime, ada hubungan saling bergantung dan saling untung. Kesenian dihidupsuburkan karena banyaknya order acara hajatan, dan hajatan menjadi meriah, berkesan, dan bermakna karena kreasi kesenian. Hajatan keluarga, seperti khitanan, perkawinan, rasulan, puputan, ruwatan, ataupun syukuran lainnya senantiasa membutuhkan kesenian daerah. Demikian pula hajatan desa atau kelompok masyarakat, seperti mapag sri, sedekah bumi, ngunjung, barikan/baritan, nadran, ataupun ngarot. Di wilayah kultural yang meliputi Kab. dan Kota Cirebon, Kab. Indramayu, wilayah utara Kab. Majalengka, utara Kab. Subang, dan utara Kab. Karawang, hingga ke sebagian Kab. Brebes dan Tegal tersebut, simbiosis itu tampak.

Wayang golek cepak/menak, misalnya, pada dasawarsa 1950-an hingga 1970-an termasuk jenis kesenian yang laris-manis, karena kebutuhan khusus untuk acara ngunjung, barikan/baritan, atau hajatan keluarga. Tidaklah heran jika seorang dalang wayang golek cepak bisa mendapatkan order hingga 20 panggungan/bulan. Cerita babad desa, penyebaran Islam, ataupun para sahabat Nabi yang menjadi inti cerita kesenian tersebut, sangat digandrungi penonton saat itu.

Tampaknya hajatan bukan hanya hiburan dan kemeriahan, ada kebutuhan lain yang lebih mendasar, yakni kontemplasi. Tidak heran pula jika wayang kulit senantiasa dihadirkan pada acara nadran untuk menghadirkan kembali pemahaman bahwa lautan adalah sisi penting kehidupan nelayan melalui lakon budug basu. Begitu pula lakon-lakon lain pada hajatan keluarga sebagai penghayatan kembali atas realitas sosial-politik melalui wayang yang disajikan secara tragis maupun satir. 

Sesuatu yang diidealkan, dengan cerita berlatar kerajaan atau kesultanan pada zaman yang entah, dihadirkan seni sandiwara (semacam ketoprak).Gambaran ideal putri raja yang cantik, pangeran yang tampan, raja yang sakti, permaisuri yang sabar, patih yang bijaksana, ataupun tokoh antagonis berupa buta (raksasa) yang jahat seakan-akan mengidealkan bagaimana negara harus mampu memakmurkan rakyatnya. Itulah sebabnya, seni sandiwara meraih booming hingga dekade 1990-an. 

Sebagai masyarakat agraris, wong Cerbon-Dermayu menemukan apresiasi atas rutinitas kesehariannya pada kesenian tarling. Di situ ada realitas sosiokultural: majikan dan buruh pada masyarakat tani, juragan dan bidakpada nelayan, situasi yang mengetengahkan realitas sugih (kaya) dan mlarat(miskin). Akan tetapi tarling mengemas kesedihan dan kegembiraan dengan estetika yang membumi. Dalam acara hajatan tersebut, lapisan bawah dan atas seakan-akan menemukan daya intuisinya dan bersama-sama bisa menertawakan dirinya.

Selera Massa

Akan tetapi sebagaimana sebuah hubungan, ternyata tidak selamanya berjalan baik dan mulus. Ada saat-saat indah dan romantis, ada juga saat-saat renggang, jauh, bahkan terjadi perceraian. Hajatan keluarga maupun hajatan desa tetap berjalan, namun di sisi lain beberapa jenis kesenian kurang terpakai lagi.

Hajatan memiliki sifat dan karakternya sendiri yang berkonotasi sebagai pemberi order. Sebagai pemberi oder, ia memiliki kekuasaan yang tak terbatas, atau dengan kata lain pembeli adalah raja. Ada pertimbangan selera, trend, dan tujuan tertentu untuk menghadirkan sebuah grup kesenian. Tidaklah heran unsur-unsur tersebut senantiasa berubah pada hampir setiap dekade. Sikap pragmatis bahkan ditunjukkan pada hajatan desa. Ngunjung,sedekah bumi atau mapag sri acapkali tidak lagi menghadirkan wayang, tetapi diganti sandiwara.

Jika pada dekade 1960-an hingga 1970-an wayang golek cepak/menak, tari tayuban, dan tari topeng berjaya, pada dekade selanjutnya tidak demikian. Begitu pula pada dekade 1970-an hingga 1980-an tarling dan sandiwara mencapai masa keemasan, dekade berikutnya mengalami kelesuan. Dekade berikutnya tampak marak tarling dangdut, di susul organ tunggal, trio organ, lalu kembali menampilkan drama tarling dengan iringan ”orkestra” tarling secara lengkap, hal itu juga tak bisa dipungkiri karena perubahan selera, trend, dan tujuan tertentu pemberi order atau massa.

Kesenian Massa

Kesenian, dalam hal ini, berada pada posisi yang lemah. Ia memiliki sifat dan karakter hanya sebagai penunggu dan pengharap order, penghibur selera dan trend belaka, pelepas penat dan lelah, dan semata-mata hanya meramaikan dan memeriahkan. Tidaklah heran, meskipun wayang kulit dan sandiwara hingga kini masih tampak eksis, seringkali rata-rata penonton lebih serius untuk nyawer dan minta namanya disebut dalam tembang pesinden. Keseriusan ini berdampak pada inti cerita, yang seringkali tak selesai walaupun pertunjukan telah usai.

Pada pertunjukan organ tampak lebih serius lagi dalam hal nyawer. Ada situasi psikologi tertentu yang memuat massa luruh dalam kegembiaraan bersama. Dulu, situasi ini terbatas pada kalangan tertentu pada pertunjukan tari tayuban dekade 1950-an hingga 1980-an. Kini, siapapun bisa melakukannya, sekalipun dengan lembaran receh sambil berjoget bersama dan namanya disebut-sebut penyanyi yang acapkali tampil menggoda.

Bertambahnya jumlah lulusan SLA hingga sarjana, atau naiknya strata sosial dan ekonomi, seakan-akan tak seiring sejalan dengan mutu kesenian massa. Tidak heran pula, bila daya apresiasi pun ikut terimbas. Kesenian tarling, misalnya, mengalami distorsi karena dianggap hanya lagu-lagu dangdut berbahasa Cirebon belaka. Lebih parah lagi pada pertunjukan organ, anak-anak kecil pun terbiasa dicekoki seperti situasi joget dalam ruang diskotik.

Situasi inilah yang membuat kesenian selalu manut, tetapi gamang. Selera massa menjadi suatu keniscayaan, dan substansi seni menjadi tercerabut. Pada akhirnya, hubungan ini sulit dikatakan sebagai saling bergantung dan saling untung atau simbiosis mutualisme. Hubungan ini lebih tepat sebagai simbiosis parasitisme.


Dikutip dari sumber : Supali Kasim

Hj. Dariyah

Hj.Dariyah pertama kali dikenal sebagai sinden. Kemudian ia lebih dikenal sebagai penyanyi tarling grup Cahaya Muda yang berasal dari Jatibarang, Kab. Indramayu, pimpinan H. Ma'mun, suaminya sendiri. Bersama Cahaya Muda, ia banyak menerima tawaran manggung dan mengeluarkan album, baik drama tarling ataupun lagu tarling.

Lagu-Lagu Hj. Dariyah :

Abdul Adjib

H.Abdul Adjib, adalah pimpinan grup tarling Putra Sangkala. Bersama istrinya, Hj.Uun Kurniasih, didaulat sebagai raja dan ratu tarling. Salah satu karya terbaiknya ialah drama tarling klasik, Baridin dan lagu Warung Pojok. Berikut adalah lagu-lagu ciptaannya:









10 Lagu Tarling Jenaka

Selasa, 20 September 2011

Tari Topeng, Tarian Tradisional Daerah Cirebon

Kesenian Topeng di Indonesia merniliki khasanah yang cukup beraneka, tersebar di antara kelompok budaya se-Indonesia. Dalam hal ini, Jawa Barat ikut memberikan kontribusi yang sampai sekarang sempat pula berperan serta pada pergelaran Seni Tani Topeng dalam lingkungan Nasional maupun Internasional. Di Jawa Barat, khususnya wilayah Cirebon menjadi sumber Kesenian Topeng Jawa Barat dan sampai kini mampu dipertahankan eksistensinya. Suatu kenyataan bahwa pusat Kesenian Topeng di wilayah Cirebon tersebar luas di desa-desa, bukan berpusat di Keraton. Pewarisannya dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, yaitu dari orang tua diturunkan ke sanak keluarga sebagai penerusnya yang hingga kini masih tekun mempertahankannya. Ketahanan ini disebabkan adanya kesadaran bahwa meneruskan seni leluhur (karuhun) merupakan pancen (keharusan), dan penerusannya adalah tanggung jawab sanak keluarga. Hal ini dapat terjalin karena dukungan pranata sosial masyarakatnya yang memiliki kesadaran bahwa Kesenian Topeng merupakan kelengkapan spiritual kehidupan.

Jenis-Jenis Kesenian Topeng

Pada rumpun Tari Topeng ini umumnya ciri setiap pelaku penari dalam memerankan karakternya menggunakan tutup muka atau kedok; yang dibuat dari bahan kayu dalam ukuran khusus dengan bentuk wajah dan warna disesuaikan dengan karakter tokoh yang akan ditarikan. Pemakaian topeng ini sebagai rias muka yang dapat diganti dalam waktu singkat. Tari topeng yang masih menggunakan tutup muka atau kedok tersebut sampai saat ini masih terdapat di beberapa daerah di Jawa Barat di antaranya yang paling baku di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka. Namun tariannya di antaranya: 

Tari Topeng Panji; bentuk topeng karakter halus warna putih ukiran mata sipit tetapi memiliki daya magis dan kedalaman pandang sebagai salah seorang yang berwibawa dan berbudi luhur. 
Tari Topeng Pamindo; bentuk topeng karakter remaja memiliki daya tarik gembira, warna hijau muda atau kadang-kadang hiasan rambut berwarna putih dan bibir sedikit terbuka. 
Tari Topeng Rumiang; bentuk topeng karakter di atas karakter Pamindo, hiasan rambut merah muda dan nampak bibir senyum seolah-olah memiliki puncak keremajaan yang mengagumkan. 
Tari Topeng Tumenggung atau Patih; bentuk topeng dewasa mata terbuka, berkumis, dahi lebar berwajah merah jambu memiliki kemampuan sebagai seorang pejabat Patih Tumenggung atau patih dari suatu kerajaan.
Tani Topeng Kelana; bentuk topeng karakter angkuh atau sosok manusia sombong, pada ukiran ini tampak hiasan kepala memakai siger jambang, mata lebih nampak bengis berkumis tebal serta bibir gigi gereget kesan marah yang tidak puas-puas, warna muka merah tua.
Tari topeng lainnya adalah sejenis Topeng Panakawan atau topeng yang dibuat khusus untuk penari yang bila memerankan tokoh lainnya yang sejenis. Topeng jenis ini disebut Topeng Jantuk; artinya topeng dibuat setengah hanya dari bagian hidung ke atas, bagian bawah terbuka bebas mulut asli tetap nampak.

Topeng-topeng semacam ini di Jawa Barat umumnya dipergunakan dalam pertunjukan Topeng Banjet yang masih ada di daerah Bekasi, Depok, dan Kabupaten Bogor bagian utara.

Kembali kepada wilayah cikal-bakal Kesenian Topeng di Jawa Barat, yaitu Cirebon, di sini terdapat Seni Topeng Babakan, Seni Wayang Wong (wayang topeng), dan Seni Bengberokan atau Bangbarongan. Kenyataannya sekarang Seni Topeng Babakan yang paling banyak tampil di masyarakat, sampai ke Mancanagara.

Ada beberapa alasan mengapa sampai terjadi demikian. Mungkin karena Seni Topeng Babakan tidak memerlukan banyak penari yang tampil, cukup seorang penari Bodor, atau karena tariannya yang umumnya tari tunggal, lebih menarik dengan keanekaannya, berkaitan adanya perwatakan seperti Tari Topeng Panji yang halus; Tari Topeng Pamindo yang lincah, Tari Topeng Tumenggung yang gagah, dan Tari Topeng Kalana yang gagah serta garang. Adapula adegan petikan Tari Tumenggung Magangdiraja dengan Jinggaanom yang mengandung adegan perang serta melawak. Di samping munculnya bodor yang menghilangkan kejenuhan suasana, dan di sini pula dapat disampaikan pesan-pesan budi pekerti dan kemasyarakatan sambil berkomunikasi kepada penonton.

Selain itu kemungkinan lainnya adalah banyaknya perbendaharaan gerak tari yang cukup menarik, terjalin pada setiap pemunculan perwatakan, ditambah gerakan kepala yang tertutup kedok, serta gerakan alat bantu seperti rawis (sumping), gerakan carecet (ules), serta gerakan sodernya. Perkiraan yang menyebabkan ketahanannya sepanjang masa adalah karena Topeng Babakan yang disebut Topeng Dinaan, masih terpaut kepada kebiasaan atau adat masyarakat di wilayah Cirebon yang biasa menanggapnya sehari suntuk (sedina, sadinten), sebelum nanggap Wayang Kulit pada malamnya sebagai kelengkapan suatu perhelatan pernikahan, khitanan, babarit, dan sebagainya. Khasanah Seni Topeng yang lain, di samping Topeng Babakan adalah Wayang Wong dimana para pemainnya merupakan penari yang menggunakan kedok, dengan antawacananya sendiri-sendiri.

Kesenian Wayang Topeng bukan saja menyangkut seni tari topengnya, tapi juga seni pewayangan, seni karawitan, seni pedalangan, seni membuat kedok, termasuk pula busana Wayang Wong Jawa Barat yang memiliki ciri tersendiri. Tidak dipungkiri bahwa pada Wayang Wong dituntut pula kemampuan lain dari penari, yaitu kemampuan melakukan antawacana, atau melakukan gerakan mengikuti kata-kata Sang Dalang bila memakai kedok. Tapi sepanjang yang pernah disaksikan, para pemain Topeng Babakan juga mampu tampil sebagai pemain Wayang Topeng. Kemampuan ini merupakan living treasure yang sangat berharga, oleh karena itu tidak pantas kalau tidak dimanfaatkan bahkan dikembangkan pemasyarakatannya.

Khasanah Kesenian Topeng lainnya yang telah dikemukakan di depan ialah Bengberokan atau Bangbarongan, yang umumnya hanya terdiri atas seorang 3%1 takUhnik dental Cutup kepada berbentuk ke.pga.Barong (beruarig), dan sekujur badannya ditutupi kain yang berbentuk karung.

Adapun pertunjukannya dilakukan sepanjang jalan dengan iringan tetabuhan yang sangat sederhana, terdiri atas kecrek, bende, kulanter, dan perangkat kecil lainnya. Mereka biasa mengamen, dan bagi yang memberi imbalan, diyakininya akan mendapat pahala atau terhindar dari malapetaka dan wabah penyakit.

Perkembangan Kesenian Topeng

Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa Kesenian Topeng di wilayah Cirebon tersebar luas di desa-desa, bukan berpusat di Keraton, sehingga Kesenian Topeng Cirebon tidak hanya hidup di tengah masyarakat pendukungnya saja. Berkat kelonggaran adat dan tradisi masyarakat Jawa Barat, termasuk Cirebon, maka Kesenian Topeng Cirebon sempat menyebar ke luar wilayahnya. Biasanya pelakunya adalah para pengamen yang terpaksa mencari tambahan biaya hidup di musim paceklik. Hal ini terjadi pada akhir abad XIX sampai dengan abad XX. Selanjutnya kalangan Ningrat di wilayah Priangan menjadi tertarik untuk belajar dari para penari di Priangan. Karena Kesenian Topeng di Priangan tidak ada ikatan dengan pranata sosial masyarakatnya, seperti di wilayah Cirebon, maka pertumbuhannya terbatas kepada jenis-jenis Tari Topeng yang digemari para penari dan penontonnya. Kondisi di Priangan tidak seutuh di Cirebon dalam pelestariannya. Walaupun demikian Tari Topeng di wilayah Priangan pernah menjadi mata acara pergelaran yang menonjol sebagai tarian tunggal.

Penyebaran Kesenian Topeng ke sebelah Barat Jawa Barat pernah pula menyentuh seni teater daerah setempat, sehingga timbul bentuk tester yang disebut Topeng Betawi, Topeng Cisalak atau Topeng Kinang, dan Topeng Kacrit, yang dibuka dengan babak tari yang menampilkan tari topeng Akan tetapi babak-babak berikutnya menampilkan adegan teater daerah seperti Banjet di daerah Karawang dan Longser di daerah Priangan. Istilah Jipeng adalah berasal dari kata tanji dan topeng. Mungkin di masa lalu juga menampilkan Tari Topeng, namun kini tinggal pertunjukan musik dengan menggunakan alat tiup dari barat.

Topeng Babakan menjadi sumber pertumbuhan topeng tunggal di wilayah Priangan, seperti Topeng Kalana, Topeng Menakjingga, Topeng Koncaran (R. Tjetje Somantni), serta tari Topeng Tiga Watak (Nugraha Sudireja). Demikian pula dengan thing Keurseus yang sudah menyebar di seluruh Jawa Barat, menurut pemrakarsanya R. Sambas Wirakusumah, ketua Wirahma Sari Rancaekek, adalah diilharni rumpun Tari Topeng Babakan. Selanjutnya karya besar Sendratari Ramayana yang mewakili Jawa Barat pada Festival Ramayana International di Pandaan Jawa Timur pada tahun 1971, telah banyak menggunakan unsur-unsur Topeng Babakan.

Menurut Dr. TH. Pigeaud dalam bukunya Javaanse Volksvertoningen, Topeng Wayang di Jawa Barat pernah tersebar di Priangan bahkan sampai ke Banten. Sebagai salah satu bukti dikemukakannya pula bahwa koleksi kedok suatu wayang topeng berupa kedok sebanyak 27 buah yang pernah dimiliki Patih Sumedang R. Rangga Soeriadihardja kith masih ada, dan tersimpan secara rapi di Museum Mangkunegaran, Surakarta. Juga terdapat koleksi Mayor China Tan Tjin Kie sebanyak 48 bush kedok berasal dari Cirebon. Di Filed Museum, Chicago, USA terdapat koleksi perlengkapan Wayang Topeng dari Sukabumi yang lengkap dengan busananya, di antaranya tutup kepala yang masih terbuat dan bahan logam (seng) yang disebut Kelingan, karena sambungannya dikerjakan dengan cara dikeling. Dari Serang, Banten juga masih tersimpan koleksi kelengkapan wayang topengnya.

Senin, 19 September 2011

Sintren, Sebuah Seni Dengan Unsur Magis

Sintren merupakan kesenian rakyat yang telah mengakar di pesisir utara Jawa, khususnya Cirebon & Indramayu. Ada beberapa pengertian tentang sintren. Ada yang menafsirkan bahwa sintren berasal dari kata sesantrian, yang artinya meniru perilaku dan cara berpakaian santri. Ada pula yang menafsirkan sintren itu berasal dari kata sintru, yang artinya angker. Apapun pengertian dari sintren, kesenian ini memang unik, bahkan kalau bisa dibilang penuh unsur magis di dalamnya, namun tetap mempesona.

Kesenian sintren terdiri dari juru kawih atau sinden, diiringi beberapa alat musik, seperti gamelan, sebuah alat musik pukul menyerupai gentong, rebana, gendang, gong, dan kecrek. Sebelum pertunjukan dimulai, seorang sinden menyanyikan sebuah tembang yang dimaksudkan untuk memanggil para penonton agar segera berkumpul. Sang sinden biasanya menembang sebanyak dua kali. Pertama dimaksudkan untuk mengundang penonton, dan berikutnya bertujuan memanggil seorang sintren keluar. Syair tembang yang pertama berbunyi sebagai berikut: Tambak tambak pawon. Isie dandang kukusan. Ari kebul-kebul wong nontone pada kumpul. Sedangkan syair tembang yang kedua berbunyi sebagai berikut: Kembang trate. Dituku disebrang kana. Kartini dirante Kang rante aran mang rana.

Unsur magis dalam pertunjukan sintren terlihat dengan adanya juru sintren yang bertugas memanggil bidadari. Bidadari ini kemudian merasuk di dalam raga pesintren. Pemain sintren diharuskan perempuan yang masih gadis belia antara usia 15-16 tahun, dan masih perawan. Dan syarat ini tak boleh dilanggar. Alasannya, jika seorang sintren tidak lagi perawan, bidadari yang dipanggil dari kahyangan tidak akan turun ke dalam arena pertunjukan. Rohnya tidak akan sudi merasuk ke diri seorang sintren. Bidadari harus bersih.

Pertunjukan sintren layaknya permainan sulap. Diiringi tetabuhan khas daerah pesisir, sintren diikat dengan seutas tali, dari mulai leher hingga kaki. Secara akal sehat, sang penari tak bisa lagi bergerak, apalagi melepaskan tali itu dalam waktu yangs angat singkat. Kemudian sintren dibaringkan di atas tikar dan dibungkus dengan tikar tersebut. Selanjutnya sintren dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang telah ditutup kain, setelah sebelumnya diberi bekal pakaian pengganti. Dalam prosesi ini, pawang sintren membawa pedupaan, tempat kemenyan dibakar, serta membaca doa. Suasana mistis mendadak muncul. Itulah saat di mana bidadari sudah turun dari kahyangan, berada di sisi penari sintren dan merasuk. Sinden berulang-ulang menembang, sebagai berikut: gulung-gulung kasa. Ana sintren masih turu. Wong nontone buru-buru. Ana sintren masih baru.

Tanpa bantuan orang lain, secara logika, tak mungkin sintren bisa meloloskan diri dari ikatan tali dan berganti pakaian begitu cepat. Tapi, ketika kurungan dibuka sintren telah berganti pakaian, dan tali pun sudah lepas. Ajaib memang. Kemudian sintren menari dengan monoton, lucunya sintren menari menggunakan kacamata hitam. Para penonton yang berdesak-desakan mulai melempari sintren dengan uang logam, dan begitu uang logam mengenai tubuhnya, maka sintren akan jatuh pingsan. Sintren akan sadar kembali dan menari setelah diberi jampi-jampi oleh pawang. Fenomena ajaib ini sampai sekarang belum bisa dijelaskan secara ilmiah. Di kalangan masyarakat, gadis-gadis berlomba untuk menjadi sintren. Menurut kepercayaan umum, gadis-gadis yang menjadi seintren akan cepat mendapatkan jodoh. Bermain sintren tak selamanya memerlukan panggung. Mereka dapat juga bermain di halaman rumah, meski beralas tikar.


Sintren Sebagai Simbol Kebebasan

Memang belum ada kesepakatan tentang kapan kesenian sintren ini muncul. Namun ada satu informasi yang sedikit banyak menerangkan hal tersebut. Rumekso Setyadi yang menulis Masa Lalu Kolonial dalam Sintren Masa Kini dalam buku Penghibur(an) Masa Lalu dan Budaya Hidup Masa Kini Indonesia mengemukakan bahwa transformasi kekuasaan di pesisir dari kekuasaan Mataram ke pemerintah kolonial ditengarai sebagai munculnya kesenian sintren ini. Menurutnya, sintren adalah kesaksian dari sebuah kebudayaan kolonial yang pernah berkembang di kalangan elite birokrasi Eropa dan aristokrat pribumi, yaitu kegemaran berpesta dan dansa-dansi mewah di gedung-gedung pertunjukan. Untuk meniru gaya borjuasi kolonial, rakyat membuat suatu bentuk kesenian yang merupakan ekspresi imitasi dari sebuah produk kebudayaan elite dan kemudian terciptalah sintren.

Menurut pelaku seniman tradisional Cirebon, sintren pernah digunakan sebagai alat perlawanan pada masa kolonial dahulu melalui syair-syair dalam lagunya. Sintren mulai dikenal dan populer pada 1940-an. Pada periode 1950-an, sintren banyak dimanfaatkan oleh puluhan partai yang berebut kekuasaan. Namun, perkembangan sintren mulai redup sejak masa Orde Baru.Terlepas dari itu, menurut saya, kesenian sintren merupakan perlambang kebebasan. Ini dapat kita lihat dari bentuk pertunjukannya. Adegan saat sintren diikat dengan seutas tali dan dimasukkan ke dalam kurungan, itu merupakan lambang kebebasan yang direnggut. Saat sintren terbebaskan dari tali yang mengikatnya merupakan simbol kebebasan. Diikuti dengan menari sebagai ekspresi dari kebebasan tadi. Berat dugaan saya, sintren muncul pada saat zaman kolonial, sebagai ekspresi sindiran pada penguasa. Benar atau tidaknya perlu dilakukan kajian lebih mendalam lagi.

Sekarang, sintren biasanya digelar pada upacara pernikahan/hajatan atau upacara laut. Tidak hanya di Cirebon, sintren juga dapat ditemui di daerah-daerah pesisir lainnya, seperti Pamanukan, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Bahkan sintren juga bisa ditemui di Pekalongan, Tegal, dan Batang, Jawa Tengah. Belakangan, kesenian ini jarang ditemui, bahkan di tempat lahirnya sekalipun. Seperti halnya kesenian tradisional lain, sintren mulai tersisih oleh bentuk kesenian dan hiburan modern. Lalu, apakah kita membiarkan begitu saja kesenian tradisional yang menyejarah ini punah? Bukankah sintren merupakan salah satu kekayaan budaya kita? Semoga saja tidak.

Rabu, 14 September 2011

Dewi Kirana - Sing Penting Eman

Album : -
Cipt    : E. Thorikin
Studio : -
Tahun : 2002










Intro : Bb C# Bbm D#m G# Bbm
         Fm G# D# G# Bbm
       

      Bbm      
(*)  Kang kebeneran, aduh kaberan
                               Cm
     Kulae masih angetan

     Olih sewulan, luwih sedina
                      D#          Bbm  Fm G# D# Bbm
     Kang kula nembe pisahan


        Bbm
(**)   Apa sih bener sampean seneng
                                        Cm
       Kang naksir ning diri kula

       Eh lamon bener, sing penting sayang
                        D#      Bbm
       Wias pasti kula nerima


Int : Bbm D#m G# Bbm
      Cm G# Bbm (2x)
      Bbsus4


          Bbm        
Reff :  Bli perlu jaka bagen wis duda
                               D#m
          Sing penting eman
          G#
          Kita wong loro saling percaya
                            Bbm  Cm G# Bbm -Bbsus4
          Saling pengertian
          Bbm
          Yen bener suka sampean nrima
                           D#m
          Kula wis rangda
          G#
          Tapi jalukan sing penting eman
                        Bbm Bbm G# Bbm
          Bli gawe lara


Back to :  (**)

Int : Bbm D#m G# Bbm
      Cm G# Bbm (2x)
      Bbsus4

Back to : Reff, (*)

Coda : Bbm G# Bbm

Sabtu, 10 September 2011

Menikmati Musik Tarling, Yang Mulai Dilupakan Generasi Muda

Bagi kalangan penduduk Pantura (Subang, Indramayu, Majalengka, Cirebon, dsk), musik tarling menjadi ciri tersendiri selain kebudayaan dan atau ciri khas masing-masing daerah Pantura tersebut. Misalnya Cirebon yang dikenal sebagai kota udang, mereka menganggap tarling sebagai bagian dari budaya mereka, demikian dengan Indrmayu yang dikenal sebagai kota mangga, juga menganggap tarling sebagai bagian dari budaya masyarakat Indramayu. Antara kedua daerah tersebut sepertinya tidak mempermasalahkan berasal dari manakah Tarling sebenarnya? Indramayu atau Cirebon? Karena saat ini dikenal luas istilah Tarling Cirebonan dan Tarling Dermayon. Menurut pendapat saya, Tarling menjadi milik bersama rakyat Pantura, karena dari sejarahnya banyak melibatkan masyarakat pesisir pantai utara, dan masyarakat ini pula lah yang menjadikan tarling mendunia seperti saat ini. Karakter masyarakat pesisir yang dinamis, mudah menerima budaya lain masuk mempengaruhi budaya setempat, mengakibatkan tarling yang terpengaruh gaya musik lain.

Apa Sih Asiknya Mendengarkan Lagu-Lagu Tarling?
Sobat Blogger, Dulu sewaktu saya masih duduk di bangku SD dan SMP juga tidak terlalu antusias (menyukai) untuk mendengarkan musik tarling, apalagi mengikuti perkembangannya. Waktu itu menurutku musik tarling itu sama dengan musik dangdut, yang memiliki image sebagai musiknya orang kelas bawah, norak/kampungan, identik dengan joget seronok dan lain sebagainya. Namun, saat saya menginjak kelas 3 SMP, pandangan saya terhadap musik tarling pun berubah. Saat itu saya mendengarkan beberapa teman sekelas saya (Supriyanto, Karnoto & Jamsari) mendendangkan lagu tarling, walaupun cuma dengan alat musik seadanya, gitar, meja sekolah pun dijadikan alat musik perkusi. Saat itu lagu yang saya dengar adalah lagu dari Aas Rolani berjudul Sewulan Maning. Ternyata asyik juga mendengarkan mereka bernanyi lagu tarling. Musik tarling modern memang ada akulturasi dengan musik dangdut, namun musik tarling bukanlah musik dangdut, banyak yang membedakan antara dangdut dan tarling baik dari segi aransemen musik, syair maupun alat musiknya. 


"Tunggu Kang sewulan maning
Yen sampean pengen kesanding
Aja watir Sun ingkar janji
Yen wis Jodoh pasti bakal dadi siji..."

Itulah petikan lirikm lagu Sewulan Maning milik Aas Rolani. Sebelumnya saya sering mendengar lagu-lagu tarling baik yang diputar oleh tetangga sekitar rumah, organ tarling, pertunjukkan "burok" maupun di angkutan umum (angkot). Namun waktu itu saya kurang tertarik mendengarkannya. Mungkin saya harus mengucapkan terima kasih kepada Supriyanto & Jamsari karena merekalah yang telah membukakan mata hati saya untuk mengenal dan mencintai musik tarling, musik yang menjadi ciri khas daerah pesisir pantura (Indramayu, Cirebon & sebagian wilayah Brebes). Syair-syair yang terdapat dalam lagu tarling memiliki makna yang lugas, sebagai ungkapan perasaan masyarakat. 

Tema Lagu Tarling
Ada lagu tarling yang bertema cinta/kasmaran, putus cinta/kegagalan cinta, tempat kenangan, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), nasib buruh migran, praktik klenik, humor/guyonan seronok dan lain-lain. Cobalah Sobat Blogger dengarkan beberapa lagu tarling yang bagus, saya rekomendasikan lagu dari :

1. Itih S
  • Telaga Remis : lagu ini romantis banget, melankolis, dimana mengusung perpaduan tema cinta dan tempat kenangan
  • Tetep Demen : Ini juga lagu bertema cinta dari Itih S
  • Tetes Banyu Mata : Lagu ini bertema kegagalan cinta, akibat perbedaan orang kaya dan orang tidak punya yang tidak mendapat restu dari orang tua.
2. Iwi S
  • Pertelon Jatibarang : Lagu bertema kasmaran/jatuh cinta dan tempat kenangan, jadi ingat masa-masa SMP saya, saat saya pertama kali mendengarkan lagu ini.
3. Aas Rolani
  • Bareng-Bareng Janji : Lagu bertema cinta, kesetiaan 2 pasangan yang sama-sama berjanji akan tetap setia.
  • Cikedung : Lagu bertema lokasi atau tempat kenangan yang cukup romantis, cocok buat kamu yang sedang jatuh cinta dan bertemu pacar di tempat yang indah.
  • Emong diwayu : Lagu ini bercerita tentang prahara rumah tangga, dimana sang suami berniat memiliki istri lagi (arep kawin maning)
  • Sewulan Maning : Lagu yang mengisahkan kerinduan dua sejoli yang berjauhan, namun mereka tetap komit akan menunggu hingga kepulangan sang pacar 1 bulan (sewulan maning) lagi. Sesuai judulnya.
4. Nunung Alvi
  • Berag Tua : lagu bertema tentang seorang pria tua yang stylish yang masih suka mencari berempuan muda walaupun cucunya sudah ada 9. 
  • Aja Melang : Lagu bergenre tarling remix bertema cinta namun dibawakan dengan semangat khas Nunung Alvi. Lagu-lagu Nunung alvi kebanyakan beraliran remix dan mayoritas adalah bukan lagu-lagu melankolis.
5. Uun Kurniasih
  • Bandara Soekarno-Hatta : Lagu bertema kegagalan cinta, seorang wanita yang setia menunggu kekasihnya yang merantau di tanah seberang, namun kekasihnya tersebut mengingkari janji setianya dahulu. Dan Bandara Soekarno-Hatta pun yang saat dulu menjadi saksi keberangkatan sang Lelaki untuk merantau kini telah menjadi saksi kehancuran cinta mereka.
6. Yoyo S
  • Pihak ketiga : Lagu bertema prahara rumah tangga yang berakibat pada perceraian akibat adanya indikasi orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
  • Bapuk : Lagu bertema guyonan ini mampu mengangkat nama Yoyo Suwaryo di belantika musik tarling, lagu ini asyik didengarkan, penuh joke-joke segar, namun dibawakan dengan tabuhan gendang dan alunan seruling yang dinamis.

Namun sayangnya, di zaman sekarang ini generasi muda pantura banyak yang melupakan musik tarling, mungkin karena gengsi (malu), jarang ada anak muda yang manyukai lagu tarling. Mereka sudah terpengaruh hegemoni budaya-budaya alay & latah (budaya ikut-ikutan, budaya gaul yang salah kaprah dalam hal musik, persepsi yang tidak didasari obyektivitas & flashback sejarah, dll). Sekarang ini banyak anak muda yang tak mau tahu dengan musik tradisional, mungkin karena malu dan terpengaruh budaya alay & ikut-ikutan. Misalnya ada anak SMA yang suka grup band "K", lalu teman-temanya pun ikut-ikutan, padahal mereka belum tentu tahu lagu-lagu band tersebut. Lalu ada juga anggapan bahwa musik tarling itu, norak/kampungan, sehingga mereka malu untuk mengakui eksistensi musik tarling. Padahal semua itu tidak benar, tarling adalah sebuah seni, masterpiece yang sangat berharga, alunan melodi penuh makna, dan juga sebagai sebuah ekspresi yang dituangkan dalam seni musik dan teaterikal. Ya, mau bagaimana lagi, memang itu hak asasi yang tidak bisa dipaksakan. Namun seyogyanya, sebagai anak bangsa, sudah selayaknya kita mau untuk melestarikan & menghargai kebudayaan-kebudayaan daerah masing-masing, khususnya kesenian tarling. Jangan seperti pepatah "kacang lupa akan kulitnya".

Tarling Anyar 2011
















Dewi Kirana

1. Album Berandal Tua

2. On The Rock














3. The Queen of Pantura













Dian Anic

Full Album download















Selasa, 06 September 2011

Aas Rolani & Herman Top - Bareng Bareng Janji

Cipt    : Ipang Supendi
Studio : -
Tahun : 2001











Intro :  G#m  C#m  F#/Bb  G#m
          G#m  C#m  F#  D#m
          G#m  Bb  D#m
          G#m  Bb  D#m


       G#m                  G#m7         C#m
(*)   Durung percaya, kula ning janjine
                             D#     G#m
      Sebab durung ana buktine
      G#m                  G#m7        C#m
      Kurang apa sih, semene sayange
                                 D#              G#m
      Pengen apa, srog ngomongna bae


         G#m                          C#m
(**)   Dudu emas sing dipengeni
                                  D# G#m
        Dudu dunya sing dijaluki
        G#m                     G#m7 C#m
        Dadi apa Nok, sing disenengi?
                                       D#            G#m
        Mumpung lintang wulan sing nyakseni


Interlude : G#m -D#  G#m -D#  (2x)
                D#m  B  G#m  D#m


          G#m                          
Reff :  Apa sampean bener tresna
                 E                    G#m  D#m B G#m D#m
         Sun pasrah jiwa lan raga
             G#m                  
         Kakang bli bakal bohongan
                      E                              G#m
         Yen bohong Kakang sumpae edan
                    C#m                            B
         Yuk bareng bareng janji, muga disakseni
                     Bb   D#          G#m  G#
         Ning Gusti kang maha suci
                 C#m                   B
         Sapa sing sulaya awas kudu nerima
                     Bb   Eb            G#m
         Ning cobaane... kang Kuasa


Back to : (*)

Int : G#m  D#  G#m  D#
       D#m  B  G#m  D#m



          G#m                        
Reff :  Apa sampean bener tresna
                 E                    G#m  D#m B G#m D#m
         Sun pasrah jiwa lan raga
             G#m                
         Kakang bli bakal bohongan
                       E                               G#m
         Yen bohong Nok Aas, sumpae edan
                    C#m                            B
         Yuk bareng bareng janji, muga disakseni
                     Bb   D#          G#m  G#
         Ning Gusti kang maha suci
                 C#m                   B
         Sapa sing sulaya awas kudu nerima
                     Bb   Eb            G#m
         Ning cobaane... kang Kuasa



Back to :  (**)

Share it

Entri Populer